
Sudah
satu abad fase sejarah dilewati oleh bangsa kita, yaitu suatu peristiwa yang
disebut "Kebangkitan Nasional", masa bangkitnya semangat
persatuan, kesatuan, nasionalisme, dan kesadaran untuk memperjuangkan
kemerdekaan Indonesia. Masa itu diawali peristiwa penting, yaitu berdirinya
organisasi Budi Utomo pada tanggal 20 Mei 1908. Momen Kebangkitan Nasional
dapat dimanfaatkan untuk refleksi kita terhadap perjuangan untuk memperoleh
kemerdekaan yang telah dilakukan oleh para pendahulu kita, yang telah
mengorbankan diri untuk mengusir penjajah dan mempertahankan kedaulatan negeri
ini.
Tujuan
perjuangan tersebut mempunyai makna substantif untuk menghentikan praktik
pembodohan dan eksploitasi yang dilakukan oleh bangsa asing terhadap bangsa
Indonesia pada saat itu. Praktik pembodohan yang dimaksud berupa indoktrinasi
yang mengarahkan bangsa Indonesia pada posisi subordinasi kaum penjajah dari
segi pendidikan dan penguasaan ilmu pengetahuan, bahkan eksploitasi sumber daya
alam sebagai kepentingan ekonomi yang melatar belakangi penjajahan.
Praktik
penjajahan yang dilakukan oleh bangsa asing pada masa itu, dimulai dari tahap
pembodohan dalam bidang pendidikan atau disebut education destruct. Meskipun
pemerintah kolonial membangun berbagai sarana dan prasarana pendidikan,
munculnya sekolah untuk pribumi dan sekolah untuk warga asing pada masa
kolonial Belanda menunjukkan adanya skenario agar penduduk Indonesia pada masa
itu mempunyai pandangan hidup yang sesuai dengan keinginan para penjajah.
Setelah tahap pembodohan berhasil, tahap berikutnya adalah penguasaan seluruh
potensi sumber daya. Dengan demikian, tidak terjadi perlawanan dan gejolak yang
menentang keadaan yang terjadi meskipun sistem tersebut sangat merugikan bangsa
Indonesia.
Keadaan tersebut dapat menjelaskan mengapa Belanda mampu menjajah kita selama tiga setengah abad. Akan tetapi, sejarah juga membuktikan bahwa tahap awal yang berupa penghancuran pendidikan oleh penjajah pada masa kolonial tersebut tidak sepenuhnya berhasil. Munculnya berbagai pergerakan intelektual dari kalangan mahasiswa dan pemuda membuktikan bahwa terdapat kelompok-kelompok yang menyadari keadaan education destruct tersebut. Hal itu terlihat dari adanya aksi-aksi kaum intelektual pada masa itu seperti pergerakan pemuda Jong Java, Jong Celebes, Boedi Oetomo, dan lain-lain (Muhary 2007).
Keadaan tersebut dapat menjelaskan mengapa Belanda mampu menjajah kita selama tiga setengah abad. Akan tetapi, sejarah juga membuktikan bahwa tahap awal yang berupa penghancuran pendidikan oleh penjajah pada masa kolonial tersebut tidak sepenuhnya berhasil. Munculnya berbagai pergerakan intelektual dari kalangan mahasiswa dan pemuda membuktikan bahwa terdapat kelompok-kelompok yang menyadari keadaan education destruct tersebut. Hal itu terlihat dari adanya aksi-aksi kaum intelektual pada masa itu seperti pergerakan pemuda Jong Java, Jong Celebes, Boedi Oetomo, dan lain-lain (Muhary 2007).
Sebagaimana
dikemukakan Buchori (2008) bahwa tahun 1908 merupakan titik awal kebangkitan
pendidikan Indonesia. Pernyataan ini berdasar fakta sejarah bahwa pada
tahun tersebut untuk pertama kalinya pendidikan Indonesia dipegang oleh para
cendikiawan yang bersifat liberal dan progresif dengan didirikannya organisasi
Budi Utomo. Pada waktu itu sudah dipikirkan pentingnya rasa kebangsaan dan
pemerataan pendidikan serta isu pengembangan sumber daya manusia Indonesia.
Budi
Utomo juga memfokuskan pada kesejahteraan bangsa melalui peningkatan pendidikan
(dalam arti luas), peningkatan pertanian, perdagangan, kemajuan teknik dan
kerajinan, kesenian pribumi dan tradisi, serta cita-cita kemanusiaan. Dalam
kongres pertama Budi Utomo dirumuskan tujuan perhimpunan antara lain:
- Kemajuan yang selaras untuk negeri dan bangsa;
- Memajukan pengajaran, kebudayaan. kesenian, dan ilmu pengetahuan; serta
- Memajukan pertanian, peternakan, dagang, teknik, dan industri (Widiastono, 2008).
Mencermati visi
dan tujuan dari perhimpunan Budi Utomo tersebut. dapat dikatakan bahwa
pembangunan bangsa, baik melalui peningkatan pendidikan dan ketrampilan,
pembangunan sektor pertanian, peniagangan dan industri pada dasarnya merupakan
upaya pembangunan manusia yang bermuara pada kesejahteraan penduduk.
Setelah
satu abad Kebangkitan Nasional, saat ini perlu dilakukan refleksi:
sejauh manakah cita-cita masa lalu berkaitan dengan visi kebangkitan nasional
sebagaimana dikemukakan di atas dapat tercapai? Apakah saat ini pembangunan
manusia untuk kesejahteraan sudah mengarah sesuai dengan cita-cita? Usia satu
abad merupakan periode panjang yang seharusnya menunjukkan perbaikan yang
berarti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar